Senin, 15 Januari 2018

Oper Kredit Mobil Leasing, PNS Ditahan

SHARE


Jember, Motim
Nasib apes dirasakan PNS RSUD dr. Soebandi Siti Khotijah. Gara-gara mengoper kredit mobil yang dicicilnya kepada orang lain, kini dirinya harus merasakan dinginnya jeruji besi Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Kasus itu bermula dari keinginan Siti dan suaminya Muhammad Mashuri untuk memiliki mobil impian dengan cara kredit.

“Awalnya saya dan istri ingin membeli mobil namun dengan cara dicicil. Tetapi ketika sampai pada cicilan kedelapan, kami mengalami kesulitan ekonomi sehingga kesulitan untuk membayar cicilan berikutnya,” ujar Mashuri kepada sejumlah wartawan, Sabtu siang (13/1).

Kesulitan ekonomi itu, disampaikan Siti Khotijah ke salah satu tetangga dekatnya, Nurul Hasanah. “Istri saya (Siti Khotijah) bercerita kepada Nurul Hasanah tentang kondisi ekonomi keluarga saya yang sedang sulit. Istri saya dan Nurul Hasanah sama-sama tinggal di perumahan Arjasa Asri 2. Dengan kondisi ekonomi yang sulit, istri saya berniat mengoper kredit mobil Datsun milik kami untuk mengurangi beban ekonomi. Nurul Hasanah mengatakan sanggup untuk mencarikan orang yang mau menerima mobil saya secara oper kredit,” jelas Mashuri.

Sehingga pada tanggal 21 Februari 2017 kemarin, lanjut Mashuri, Nurul Hasanah datang menemui Siti Khotijah, untuk membawa mobil Datsun Go dengan nopol P 1202 TO. “Mobil itu dibawa Nurul untuk ditunjukkan kepada Wayan. Belakangan diketahui, mobil itu akan digadaikan kepada Wayan oleh Nurul Hasanah,” ungkapnya.

“Sekitar jam 10 siang di hari yang sama (21 Februari 2017), Rudi Efendi suami Nurul Hasanah menemui istri saya di tempat kerjanya di RSUD dr. Soebandi. Rudi Efendi menjelaskan, bahwa mobil sudah digadaikan sebesar Rp 30 juta kepada Pak Wayan. Katanya (Rudi) sih, pensiunan polisi dan orangnya sudah ada di depan rumah sakit,” sambung Mashuri.

Saat Rudi bertemu dengan Siti, lanjut Mashuri, Siti diminta untuk menandatangani surat perjanjian gadai dengan Wayan. “Karena Wayan hanya mau melakukan perjanjian gadai dengan nama yang tertera di STNK mobil. Kebetulan STNK mobil atas nama istri saya. Setelah tanda tangan perjanjian itu, 1 lembar dibawa istri saya, sedangkan selembar lainnya dibawa Rudi Efendi untuk diserahkan ke Pak Wayan. Sedangkan uangnya akan diambil Rudi dari rumah Pak Wayan dan akan diserahkan ke Bu Nurul Hasanah.” ulasnya.

Sore hari pada hari yang sama, Rudi dan Nurul Hasanah datang ke rumah Mashuri. Kedatangan pasangan suami istri ini, untuk membuat perjanjian oper kredit mobil Datsun Go dengan nopol P 1202 TO itu, antara Siti Khotijah dan Nurul Hasanah.

”Saat itu Pak Rudi bilang ke istri saya. ‘Sudah bu, biar saya (Rudi) yang buat surat perjanjian oper kreditnya’. Setelah ditandatangani oleh istri saya dan Nurul Hasanah, juga oleh saksi-saksi, ternyata istri saya hanya mendapatkan uang sebesar Rp 22 juta. Dengan alasan, dari uang gadai sebesar Rp 30 juta tersebut dipotong Rp 3 juta oleh Pak Wayan. Sedangkan yang Rp 5 juta, katanya Pak Rudi akan dibayarkan ke leasing karena telat cicilan selama 2 bulan,” tandasnya.

“Namun diketahui, sama bu Nurul Hasanah cuma dibayarkan 1 kali angsuran sebesar Rp 2,5 juta,” imbuhnya.

Permasalahan datang setelah pada 6 September 2017, perwakilan pihak Indomobil selaku perusahaan leasing yang bernama Agus, membawa surat pemanggilan atas nama Siti Khotijah dari Polsek Kaliwates. Agar pada tanggal 8 September 2017, datang ke Polsek Kaliwates untuk dimintai keterangan oleh petugas.

Padahal, kata Mashuri, sekitar bulan Maret 2017 saat Agus menagih angsuran mobil, Siti Khotijah sudah memberitahu jika mobil sudah dioper kreditkan kepada Nurul Hasanah dengan menunjukan perjanjian oper kredit kepada Agus. Bahkan, kata Mashuri, Agus meminta Siti Khotijah membuat pernyataan jika mobil telah dioper kredit kepada Nurul Hasanah. “Surat pernyataan itu, untuk bukti ke kantor Indomobil,” kata Mashuri.

Bahkan Agus, kata Mashuri, juga meminta kepada dirinya untuk diantar  ke rumah Rudi dan Nurul. “Bahkan saat (Agus) bertemu dengan Pak Rudi, disampaikan bahwa jika menagih uang kredit mobil jangan ke istri saya (Siti Khotijah). Karena mobil itu telah dioper kreditkan kepada Bu Nurul Istrinya (Rudi),” jelasnya.

Dengan adanya surat pemanggilan ke Polsek Kaliwates tertanggal 8 September 2017, Mashuri pun mengantarkan istrinya untuk memenuhi panggilan dari Polsek tersebut. “Setelah diperiksa selama kurang lebih 2 jam, Siti Khotijah diminta untuk mengembalikan uang Rp 22 juta, hasil uang oper kredit yang telah diterima dari Nurul Hasanah,” tandasnya.

“Lah inikan lucu, akadnya oper kredit! kok istri saya harus mengembalikan uang Rp 22 juta itu paling lambat bulan depannya. Kan Nurul Hasanah secara sadar menandatangani surat perjanjian oper kreditnya! Ada apa ini?” kata Mashuri.

Akhirnya setelah satu bulan karena tidak punya uang tersebut, terang Mashuri, akhirnya uang tersebut tidak diserahkan oleh Siti. Oleh petugas Polsek Kaliwates bernama Irwan, Siti disarankan bertemu Joko, atasannya.

Pada 9 Oktober 2017, pihak Polsek Kaliwates yang diwakili Joko, Pihak Siti dan Mashuri suaminya, dipertemukan dengan pihak Rudi dan Nurul Hasanah. Serta juga ada dari pihak Indomobil yang diwakili manajernya bernama Anang.

“Pada pertemun tersebut, istri saya menjelaskan kronologis akad perjanjian oper kredit dan  kronologis perjanjian gadai yang telah ditanda tangani istri saya. Namun saat giliran disuruh menjelaskan, Nurul malah ngomongnya ngelantur,” kata Mashuri.

“Anehnya, setelah itu Pak Joko malah menyarankan Nurul agar melaporkan istri saya ke polisi atas kasus penipuan uang sebesar Rp 22 juta. Jika tidak bisa membayar uang tersebut,” imbuhnya.

Menurut Mashuri, harusnya justru Nurul dan Rudi yang dilaporkan oleh pihak Indomobil, yang melakukan penggelapan dengan menggadaikan mobil dan memalsukan pelat nomor mobil Datsun Go yang awalnya dengan nopol P 1202 TO itu. “Bahkan belakangan saya tahu, mobil itu juga diberi cutting stiker. Inikan ada indikasi pengaburan identitas barang bukti. Lah ini malah istri saya yang sekarang harus menderita karena ditahan kejaksaan,” jelas Mashuri dengan menundukkan wajah sedih.

Sehingga dengan persoalan tersebut, pihaknya pun meminta keadilan karena istrinya tidak pernah ada niat melakukan penipuan.”Kalau mau nipu, kenapa istri saya mau menandatangani surat perjanjian oper kreditnya. Saya minta pihak aparat hukum untuk adil! Jangan istri saya saja yang diproses hukum,” tegasnya.

“Sedangkan Nurul Hasanah dibiarkan bebas. Keluarga saya sekarang hancur, kariernya istri saya sebagai PNS juga hancur,” tukasnya.

Atas persoalan tersebut, pihak Mashuri pun juga akan melaporkan balik Nurul Hasanah kepada polisi. Sementara itu, Manajer Indomobil cabang Jember Anang saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya menyampaikan, pihaknya mengetahui dengan adanya oper kredit yang dilakukan oleh Siti Khotijah kepada Nurul Hasanah.

“Namun kita tidak tahu, Kapan oper kreditnya! Inikan di bawah tangan. Awalnya sih tidak ada kendala, namun di tangan orang terakhir tiba-tiba tidak dapat membayar angsuran. Setelah kita kirim peringatan serta somasi, dan tidak ada perhatian. Akhirnya (Siti Khotijah) kita laporkan,” kata Anang.

Terkait adanya pemalsuan nomor polisi yang dilakukan Nurul Hasanah, lanjut Anang, pihaknya mengetahui hal itu dari pihak Polsek Kaliwates. “Ya saya tahu, sempat mengetahui! Tapi bukti-buktinya ada di Polsek. Karena semua saya serahkan ke Polsek,” ujarnya. (cw2)

SHARE

Author: verified_user

0 komentar: